Kamis, 14 Januari 2016

CICERO

Riwayat Hidup Filsuf & Politikus Termasyur Romawi

Marcus Tullius Cicero 

 

Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) adalah seorang penulis, orator, filsuf, dan politikus Romawi.

Karyanya banyak dipelajari dan dipuji sampai cendekiawan di abad ke-19 mengungkapkan bahwa karya Cicero sebenarnya merupakan curian dari filsuf dan ahli retorika Yunani.

Filosofi Cicero dianggap sebagai “kristen” pagan, sehingga Gereja Katolik Roma menempatkan nilai tinggi pada karya Cicero.

Orang harus membaca Cicero dengan skeptis karena dia adalah seorang politisi ambisius. Karya tulisannya banyak diabdikan untuk mencapai tujuan politiknya.

Keterampilan menulis dan filosofi yang dimilikinya merupakan sarana untuk mencapai tujuan politik di Kekaisaran Romawi.

Meskipun Cicero lahir dari keluarga kaya, dia bukan berasal dari kelas cukup tinggi untuk masuk dalam lingkaran elit politik Romawi.

Dia belajar dan berpraktik hukum sebagai cara untuk mencapai kekuasaan di Roma.

Sejak terpilih di beberapa kantor peradilan, Cicero menjadi memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam senat Romawi.

Tidak seperti senat di Yunani Kuno, senat Romawi berfungsi dalam kapasitas sebagai penasihat.

Roma tidak diperintah secara demokrasi, melainkan lebih dekat ke oligarki, di mana hanya sebagian kecil elit yang memegang kekuasaan politik.

Sebagai konsul, jabatan paling kuat sebagai hasil pemilihan, Cicero berhasil membuka kedok konspirasi oleh Caitline yang bertujuan menggulingkan pemerintah.

Cicero lantas memerintahkan hukuman mati pada Caitline dan komplotannya tanpa pengadilan. Hal ini sangat berbeda dari tulisan Cicero sebelumnya di mana dia menyarankan peradilan yang adil.

Dia menolak bergabung dengan Julius Caesar, Crassus, dan Pompey untuk mengambil alih pemerintahan.

Crassus membalas dengan mensahkan sebuah hukum yang berlaku surut untuk mengasingkan orang-orang di Roma yang melakukan eksekusi tanpa pengadilan.

Akibat hukum ini, Cicero tidak hanya kehilangan jabatan tetapi juga statusnya sebagai warga negara.

Pengasingannya berlangsung kurang dari dua tahun dan dihabiskannya untuk menulis filsafat.

Setelah kembali ke Roma, dia menyaksikan keretakan hubungan antara Caesar dan Pompey, setelah kematian Crassus .

Cicero merasa kedua penguasa tidak cocok untuk Roma karena akan menghancurkan oligarki dan menciptakan monarki dengan penguasa kuat.

Setelah Caesar mendapatkan kekuasaan, Cicero menerima pengampunan atas dukungan ringannya kepada Pompey. Namun, dia tetap masih belum dapat kembali ke politik.

Cicero menyaksikan namun tidak ambil bagian dalam pembunuhan Caesar tiga tahun kemudian pada 44 SM. Perannya kemudian semakin ternoda oleh kepentingan politik.

Dia sengaja mengadu Marc Anthony dan Oktavianus satu sama lain untuk mengacaukan kekaisaran.

Cicero merasa Oktavianus lebih cocok menjadi kaisar karena masih muda dan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh senat untuk mengembalikan republik.

Ketika Oktavianus berdamai dengan Marc Anthony, Marc Anthony memerintahkan kematian tidak hanya Cicero tetapi juga kerabat dekat laki-lakinya.

Cicero berupaya melarikan diri dari Italia tetapi tidak berhasil dan kemudian terbunuh.

Saudara laki-laki dan keponakannya juga tewas, tapi anaknya berhasil melarikan diri dan kemudian memegang jabatan konsul seperti ayahnya

Banyak tulisan Cicero berhasil diselamatkan, meskipun diyakini terdapat beberapa bagian penting yang hilang.

Dia menulis teori tentang bagaimana retorika harus diajarkan dengan banyak memungut dari Aristoteles.

Tulisan-tulisan filosofisnya berfokus pada moralitas sehingga bisa dipahami mengapa dia begitu dicintai oleh filsuf Katolik.

Banyak orang Roma pada waktu itu percaya bahwa jika para dewa ada, mereka adalah makhluk impersonal yang sedikit peduli dengan manusia.

Cicero menganggap bahwa para dewa lebih personal dan memerintahkan manusia untuk bertindak secara moral, sehingga amat mirip dengan ajaran Kristen yang datang kemudian.

PEMIKIRAN MARCUS TULLIUS CICERO

Negara Ideal dan Hukum Alam
Dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum atau undang-undang). Dengan demikian ajaran Cicero tentang asal mula negara tidak berbeda dengan ajaran Plato, yaitu melalui perjanjian masyarakat dan kontrak sosial. Namun demikian Cicero telah memodifikasi pemikiran Plato dengan memasukkan pengaruh-pengaruh Stoic didalamnya.

Buku Cicero yang terkenal adalah De Republica (Commenwealth) . Bukunya ini punya kemiripan dengan bukunya Plato yang berjudul Republic. Isinya berbentuk dialog antara para sahabatnya. Topik utamanya berkaitan dengan tema-tema politik dan keadilan. Dalam bukunya ini, ada lima ajaran utama Cicero tentang kehidupan politik dalam sebuah Negara. Pertama, Cicero mengkonfrontasikan pertanyaan kewajiban para filsuf dalam Negara. Kedua, membahas tentang sifat persemakmuran (commenwealt). Baginya, commenwealt adalah sebuah urusan rakyat. Manusia adalah makhluk sosial alami, dan membentuk masyarakat politik. Ketiga, diskusi tentang hukum alam. Menurut Cicero, hukum alam adalah konvensi-konvensi relative yang hanya melayani kepentingan mereka yang berkuasa. Keempat, pembelaan keadilan sebagai sebuah atribut universal dari akal dan dapat diakses oleh semua makhluk rasional. Hal ini bertujuan untuk menentang keputusan-keputusan para pemimpin politik, dan perang yang terjadi atas nama Negara. Kelima, mendiskusikan ciri-ciri penguasa yang baik. Moral baik dan sifat praktis penguasa menjadi kekuatan yang dapat memberi motivasi.

Dalam pandangan Cicero, negara adalah suatu kenyataan yang harus ada dalam kehidupan manusia. Negara disusun oleh manusia berdasarkan atas kemampuan rasionya, khususnya rasio murni manusia yang disesuaikan dengan hukum alam kodrat. Kendatipun ajaran Cicero berbeda dengan ajaran Epicurus yang menganggap negara sebagai hasil perbuatan manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun ajaran Cicero ini jelas menunjukkan konsep perjanjian masyarakat tentang asal mula negara.

Dalam mengkonstruksi negara idealnya, cicero menurut model Republik Romawi, dalam bukunya yang berjudul De Republica (On The Commonwealth), Cicero menawarkan sebuah bentuk negara yang menganut konstitusi campuran, yaitu sebuah konstitusi yang mengawinkan kebaikan dari berbagai sistem politik yaitu; sistem monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Monarki di mata Cicero dipandang memiliki kebaikan, karena dalam sistem ini keberadaan seorang raja layaknya seorang bapak yang akan mengayomi anak-anaknya. Namun rakyat memiliki bagian yang telalu kecil dan suara yang tidak signifikansi dalam administrasi. Aristokrasi dalam pandangannya pun memiliki kebaikan, yaitu kebijaksanaan akan memimpin dan membimbing negara. Namun kebebasan rakyat terlalu dibatasi karena tidak dilibatkan dalam pembagian kekuasaan politik. Sedangkan demokrasi walau dinilai oleh Plato dan Aristoteles merupakan sebuah sistem yang buruk, bagi Cicero demokrasi juga memiliki kelebihan karena memberi ruang pada rakyat untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik. Namun, menurut Cicero ketiganya terlalu mudah merosot karena bentuknya yang jahat (masing-masing memiliki kekurangan yang membusukkannya): monarkhi menjadi tirani, aristokrasi menjadi pluktorasi atau ologarkhi, dan demokrasi menjadi hukum rimba.

Cicero percaya bahwa sifat negara ideal secara esensial bergantung pada pengaturan- pengaturan institusional para pejabat publik. Kepala diantara mereka adalah para senator, dan ia melihat senat sebagai inti sistem hukum dan kekuasaan yang direkomenasikannya. Senat sebaiknya menngontrol kebijakan publik. Kata kunci yang diartikan oleh cicero tentang kekuasaan adalah dominus, ”pakar” kebijakan publik. Bahwa keutamaan senat dalam suatu negara adalah berada dalam konstitusi.

Konstitusi campuran adalah isi dari buku Cicero yaitu de Republica. Menurut analisis Cicero dalam bentuk Republik Roma adalah konstitusi jenis terbaik. Cicero menolak konstitusi- konstitusis sederhana karena kecendrungan untuk terdegradasi menjadi tirani. Cicero lebih menyukai konstitusi campuran seperti Roma dimana memadukan tiga tipe sederhana menjadi satu bentuk pemerintahan yang moderat dan berimbang. Dalam negara semacam ini terdapat terdapat elemen tertinggi atau elemen muliadengan kekuasaan (potestas) bagi magistrat, kewenagan (auctoritas) bagi para tokoh, dan kebebasan (libertas) bagi rakyat. Hak, kewajiban, dan fungsi diseimbangkan secara adil, dengan stiap warga apa pada tingkatan dan posisinya sendiri. Sebagai kesetaraan yang adil dan sejati, konstitysi campuran menghasilakn stabilitas besar, karena penyebab degradasi dikendalikan lewa pembatas- pembatas struktural.

Pernyataan Cicero tentang Konstitusi Campuran, ia memikirkan Republik roma dengan para konsul sebagi pemegangkekuatan raja, senat sebagai pemegang kekuatan aristokrasi, dan tribun-tribun serta majelis-majelis rakyat sebagai pemegang kekuatan demokrasi. Masing masing memeriksa dan menyeimbangkan yang lain.dari pencariannya atas sifat campuran Roma yang berimbang, Cicero menulai sejarah konstitusionalnya dengan pendirian legendaris romulus dan berlanjut melewati kekuasaan tradisional tujuh raja, penghapuswan monarkhi, dan penggantiannnya dengan aristokrasi, hingga pertengahan abad kelima ketika dua belas tabel (twelve Table) diundangkan dan oligarkhi kaum decemvir ditumbangkan

Dalam bukunya kedua, yaitu De Legibus, Cicero memperluas mengenai apa yang disebut hukum alam. Cicero mendefenisikan hukum adalah nalar tertinggi yang ditanamkan ke alam yang memerintahhkan apa yang musti dilakukan dan melarang hak yang sebaliknya. Hukum adalah kekuatan alamiah; ia meruapakn pikiran dan nalar manusis yang cerdas, standar yang digunakan untuk mengukur keadilan dan ketidakadilan. Namun, karena seluruh pembahasan harus sejalan dengan nalar penduduk seringkali perlu membahasnya dengna nalar yang popular, dan memberi nama hukum apa yang dalam bentuknya yang tertulis memutuskan apa pun yang dia kehendaki baik berupa perintah dan larangan. Sebab, inilah defenisi hukum yang biasa dipakai.

Cicero menekankan, hukum apa pun yang dibuat oleh manusia atau tradisi apaun yang mereka praktekkan, yang tidak sesuai dengan hukum alam itu tidak absah. Manusia mngkin saja dipaksa oleh kekuatan fisik penguasa yang lebih superior untuk mematuhi keutusan- keputusan yang bertentangan dengan alam tetapi dia memiliki kewajiban untuk melakukannya. Dengan demikian, manusia bukan merupakan subyek badi hukum yang dibebankan kepadanya melainkan hanya untuk “hukum alami” yang dia berikan kepada dirinya sendiri.

Cicero bersama Plato, dan Polybius adalah pembela gigih dari kegunaan sosial dari agama. Cicero percaya bahwa agama melegitimasi tindakan- tindakan pemerintah dan membujuk para warga negara untuk menghormati institusi- institusi mereka dan penghargaan terhadap para penguasa serta kebijakan- kebijaknnya, jadi mencipatakan satu basis dukungan yang luas dan loyalitas yang bertahan lama. Singkatnya agama adala pondasi mutlak yang krusial bagi pendidikan dan keluhuran sipil, kesatuan dan ketertiban negara. Alasan- alasan Cicero mengapa agama penting bagi negara adalah yang utama, agama memberikan kewenangan kepada negara sehingga memungkinkannya memerintahkan loyalitas dan kepatuhan dari warga negara. Seandainya negara dianggap didirikan oleh dewa, maka seluruhnya yang dikerjakan memiliki legitimasi. Para warga negara yang akhirnya percaya bahwa dewa- dewa selalu mengawasi, akan berhati- hati dalam perilaku individual mereka dan mencermati sikap- sikap buruk mereka, sepertinya akan menuruti petunjuk moral dan komunitas. Akhirnya pengaruh sosial bersih dari agama adalah penjinakan dan menenangkan rakyat. Ia mengangkat rakyat keluar dari kebiadaban dan barbarisme dan menjadi instrumen dalam pembentukan suatu jalan hidup ang harmoni, sempurna dan beradab. Melalui agama sebuah masyarakat yang damai dan tertib adapat diteguhkan, memiliki moral, kegigihan, kekuatan yang diperlukan untuk penjagaan diri dari dunia yang kejam.
Stoicisme
Marzab Stoic, mempunyai asal mula yang sejaman dengan Epicureanisme. Namun demikian, sejarahnya yang lebih panjang, doktrinnya tidak begitu kaku, dan pengaruhnya jauh lebih besar. Stoicisme merupakan mazhab yang mendidik negarawan sebaik para filsuf. Bersama- sama dengan doktrin Hukum universal dan kewargaan dunia, Stoic baru tampaknya menyeru kepada temparamen dan pandangan orang- orang Romawi yang dimasukkan ke dalam sistem politik dan hukum meraka.

Marcuss Aurellius Cicero adalah tokoh terkemuka dari mazhab Stoic, mempersentasekan tipe kebajikan Stoic. Dia bukan hanya menghabiskan waktu secara sungguh- sungguh untuk meditasi, namun mencurahkan 16 jam stiap harinya pada pemerintahan kerajaan Romawi. Tetapi apa yang baik dari semua pelayanan publik stoic ini sebagimana klaim Stoicisme, dunia tidak berarti dan jika kesehatan, kekayaan, atau kekuasaan yang ada pada mereka tidak berguna? Bagi Cicero dan kaum Stoic baru, jawabannya sangat jelas, bahwa hidup adalah seperti permainan. Apa yang nyata adalah bahwa permainan bisa dihadirkan secara benar dan ara pemain bisa memenuhi bagian- bagian mereka secara benar.

Menurut kaum Stoic, Tuhan memberikan setiap individu suatu peran: seseorang mungkin berada dalam kasta pemguasa, yang lain mungkin sebagai budak. Pemain yang baik harus bisa memainkan keduannya; yang penting baginya adalah menerima peran tersebut tanpa berlebihan atau mengeluh dan menjalankannnya dengan baik. Bagian dalam permainan, sebagimana semua hal di dunian ini, semuannya tidak berguna. Namun utuk menjadi pemain yang baik seseorang harus menjalankan fungsinya, apapun peran yang harus dilakukan. Dia harus berupaya menuju kesempurnaan apakah dengan peran sebagai raja ataukah budak karena kebaikan watak terletak pada perbuatan menuju kesempurnaan tersebut. dengan penalaran ini, stoicime memberikan bimbingan kepada para wali maupun pelayan publik.

 

Karya-karya Cicero

 

Cicero merupakan pembaru bahasa Latin terbesar di zamannya. Karya filsafatnya sangat terkenal dan berpengaruh, di antaranya adalah yang tertuang dalam pidato-pidatonya yang berjumlah 57 tulisan, selain 17 fragmen lain. Kemudian karya-karya filsafat, retorika, dan surat-surat tercatat berjumlah ± 800 buah dan tersimpan baik hingga saat ini. Pada sumber lain tercatat bahwa pada Juli 43 SM, lebih dari 900 tulisan diselamatkan, 835 ditulis oleh Cicero sendiri, 416 dialamatkan kepada sahabatnya, seorang ksatria bernama Pomponius Atticus, dan 419 kepada 94 orang lain, baik kerabat maupun kenalannya.Beberapa surat tidak dapat dilacak, salah satunya suratnya kepada Pompeius yang disebutkan dalam Pro Sulla dan Pro Plancio yang merupakan surat berisi konspirasi Lucius Sergius Catilina.Kemudian, terdapat juga empat koleksi surat-surat Cicero yang dialamatkan kepada Atticus dalam 16 buku, kepada kenalan dan saudaranya yang berjumlah 16 buku, kepada Brutus yang berjumlah 3 buku, dan kepada saudaranya berjudul Ad Quintum Fratem.

Selain karya-karya tentang filsafat dan tulisan yang terkait politik, sebagai penyair, Cicero diketahui menerbitkan puisi-puisi berbahasa Latin, di antaranya adalah: epos berjudul de Consulatu Suo (Inggris: On His Consulship) dan de Temproribus Suis (Inggris: On His Life and Times), yang merupakan tulisan yang dipakainya untuk mengkritik kekunoan tradisi penyembahan masyarakat Romawi pada zamannya.Cicero sendiri menolak untuk disebut sebagai salah satu tokoh dari salah satu aliran-aliran seni kala itu, entah sebagai seniman dalam kelompok orang-orang Asia yang rata-rata kaya dan tampil secara berlebihan, atau kelompok yang diwakili oleh Quintus Hortensius, maupun mereka yang menyebut diri sebagai Atticist, misalnya Julius Caesar dan Brutus. Adapun karya bergenre humor yang ditulis Cicero yang memuat prinsip-prinsip Stoanya berjudul Pro Murena, yang merupakan sebuah karya yang mendiskreditkan Cato yang berpihak kepada para pengacara yang menyerang Clodia. Karya tersebut termuat dalam pidato berjudul Pro Caelio yang dibawakan Cicero pada 4 April 56 SM.

SOCRATES

Socrates

RIWAYAT HIDUP

 

 (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) (469 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.

Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.

Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.

 PEMIKIRAN

Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Socrates karena setelah penyelidikan itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Socrates melalui peradilan dengan tuduhan merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya bisa dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.

Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu "kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato.

a.       Tentang metode berfilsafat

Socrates adalah filsuf Athena pertama yang mengajarkan cara berfikir dengan konsep pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada lawan bicara. Hal ini bias kita anggap sebagai metode dialektika, sebab setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kita lontarkan pada lawan bicara maka kita pula akan mencari jawaban kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dari jawaban-jawaban tadi. Hal ini mungkin bisa kita katakan juga sebagai metode induksi sebab jika di telaah secara mendalam maka kesimpulan yang kita ambil tadi adalah merupakan kesimpulan yang umum dari berbagai jawaban yang bersifat khusus. Sebagai contoh ketika Socrates bertanya pada mahasiswanya

’’pengetahuan itu apa? Mahasiswa itu akan menjawab ilmu pasti, ilmu perbintangan dan lain sebagainya. Socrates menyela,’bukan itu yang kumaksud akan tetapi adalah pengertian dari pengetahuan? Maka mahasiswa itu akan menjawab lagi’’pengetahuan adalah penglihatan, sebab apa yang saya lihat merupakan pengetahuan yang saya dapatkan’’

Begitulah cara Socrates dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaanya sehingga pada akhirnya dia dapat menarik sebuah kesimpulan dari banyaknya jawaban yang didapatkanya. Metode berfilsafat yang ditawarkanya ini adalah sebuah metode berfikir yang nantinya akan dikembangkan oleh para murid maupun sahabat-sahabatnya seperti xenhopon, ariestoteles, plato, dan ariestophanes. Inilah yang mungkin menurut kita semua menjadi proses awal terbentuknya metode berfikir induksi seperti apa yang dijalankan oleh ariestoteles pada zaman yunani kuno dan francis bacon pada zaman renaisains, kemudian dijerman seorang filsuf yang bernama Hegel yang mencoba menawarkan metode berfikir seperti ini. Oleh karena itu kita perlu memberikan suatu apresiasi yang besar atas pemikiran Socrates ini sebab metode berfikir seperti ini banyak digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari dan juga metode ini menawarkan sikap yang ideal dalam menghadapi semua permasalahan kehidupan yang sangat kompleks ini.      

b.      Tentang objek baru dalam penelitian filsafat

Socrates adalah sosok yang sangat berbeda dari para filsuf yang ada sebelum dirinya, hal ini dapat kita lihat dari permasalahan objek kajian filsafat bagi Socrates. Objek yang sangat penting bagi filsafat menurutnya bukanlah lagi alam seperti apa yang telah disinggung oleh para pendahulunya, akan tetapi adalah manusia. Hal ini dikarenakan manusia adalah segala yang menjadi penentu alam atu pemelihara alam sehingga manusia bagi Socrates haruslah menjadi sosok yang bersifat melindungi baik alam maupun sesamanya. Karena itulah seorang filsuf Roma yang bernama seperti dalam kutipanya mengatakan bahwasanya’’socrates telah menurunkan filsafat dari langit dan telah menyebarkanya demi kebaikan umat manusia, ia mengganttarkanya ke kota-kota, memperkenalkanya ke rumah-rumah, dan memaksanya untuk menelaah khidupan, etika, dan kebaikan’’

Karena pandangan seperti ini maka tak jarang Socrates pada masanya sering dikatakan sebagai seorang nabi yang telah diutus oleh yang maha kuasakedunia ini untuk menjalankan dan menyebarkan segala bentuk keadilan agar dunia ini menjadi tertata dengan sebaik-baiknya. Olehnya Socrates dalam kehidupanya jarang sekali membicarakan masalah alam atau nature, sebab baginya alam adalah urusan tuhan. Apakah dunia ini dijadikan dari apa dan untuk tujuan apa itu merupakan urusan tuhan semata, manusia hanyalah pemelihara alam yang telah dititipkan kepada kita sebagai mahluk yang berakal. Hal inilah juga yang menyebabkan para sejarawan modern tidak memasukan Socrates dalam kumpulan filsuf alam sebagaimana thales, phytaghoras, anaximendes, Heraclitus, Democritus, dan lain-lain.

c.       Tentang etika dan jiwa

Dalam konsep etika Socrates kita akan dikenalkan pada konsep ‘’eudomonia’’ yang artinya kebahagiaan. Kebahagiaan ini adalah menjadi tujuan tertinggi manusia dan sekaligus menjadi ketenangan jiwa bagi manusia itu sendiri. Jiwa menjadi tenang diakibatkan dalam jiwa itu telah terdapat banyak kebaikan-kebaikan yang dengan itu manusia bisa mencapai suatu kebahagiaan yang hakiki. Jika seorang manusia telah menemukan kebahagiaan yang menjadi tujuan itu maka diri dan jiwanya akan mendapatkan atau secara inheren akan melekat suatu sikap yang Socrates menyebutnya dengan ‘’keutamaan’’.

Socrates mengatakan bahwa’’tujuan tertinggi manusia adalah membuat diri dan jiwanya menjadi sebaik mungkin’’, yang dimaksud jiwa disini bagi Socrates adalah kepribadian yang menjadi intisari manusia. Kepribadian atau jiwa manusia ini jika baik maka jiwa itu akan mendapatkan suatu keutamaan yang sangat tinggi dan tidak mungkin jiwa yang baik itu akan memalingkan dirinya dari suatu keutamaan. Hal ini dikarenakan jiwa itu telah mencapai konsep eudomonia tadi yaitu kebahagiaan tertinggi yang menjadi tujuan hidup manusia. Keutamaan ini memiliki suatu kebaikan yang pasti melekat padanya sampai kapanpun sebagai contoh  ketika seseorang memiliki keutamaan sebagai pemahat patung maka patung yang akan dihasilkanya adalah patung yang bagus dan baik sebab memahat telah menjadi keutamaannya.

Keutamaan dan kebaikan adalah dua hal yang sangat koheren atau berkaitan, sebab tidak akan mungkin seseorang yang telah memiliki keutamaan maka ia akan menghasilkan hasil yang buruk. Seseorang dikatakan memiliki keutamaan apabila sesuatu yang dihasilkanya selalu dalam kualitas baik dan tidak memiliki keutamaan jika yang dihasilkanya belum berkuualitas baik atau masih buruk. Selanjutnya Socrates membagi keutamaan menjadi tiga bagian pertama jika manusia melakukan suatu kesalahan dengan sengaja maka ia tidak mempunyai pengetahuan tentang kebaikan, sebab jika seseorang melakukan keburukan dengan sengaja maka berarti ia belum paham bahwa yang dilakukanya itu adalah sebuah keburukan. Kedua keutamaan itu menyeluruh, contohnya ketika seseorang memiliki sifat tidak sombong, maka secara otomatis dia juga adalah sosok yang adil, baik, dan sebagainya, sebab keutamaan itu tidak mungkin hanya memiliki satu kebaikan saja. Ketiga keutamaan itu adalah pengetahuan, maka keutamaan itu bisa kita ajarkan pada orang lain.

Itulah beberapa pembagian keutamaan bagi Socrates yang dapat kita jadikan sebagai acuan dalam hidup ini supaya tetap berbuat baik, akan tetapi tidak ada salahnya juga bila kita mengkritiknya. Tentunya ini bukan merupakan acuan kita satu-satunya tapi jika diteliti secara seksama maka etika yang ditawarkanya ini bisa di anggap sebagai motivasi bagi kita  dalam hidup ini.



ARISTOTELES

Aristoteles

 

  (bahasa Yunani: ‘Aριστοτέλης Aristotélēs), (384 SM322 SM) adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung. Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi.Bersama dengan Socrates dan Plato, ia dianggap menjadi seorang di antara tiga orang filsuf yang paling berpengaruh di pemikiran Barat.

  Riwayat hidup

Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun.Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia.

Saat Alexander berkuasa pada tahun 336 SM, ia kembali ke Athena Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami Socrates.[Aristoteles meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut.Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.

 

PEMIKIRAN ARISTOTELES TENTANG FILSAFAT

Pemikiran kefilsafatan memiliki cirri-ciri khas (karateristik) tertentu, sebagian besar filosof berbeda pendapat mengenai karateristik pemikiran kefilsafatan. Apabila perbedaan pendapat tersebut dipahami secara teliti dan mendalam, maka karateristik pemikiran kefilsafatan tersebut terdiri dari:
a. Menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi beberapa sudut pandang. Pemikiran kefilsafatan meliputi beberapa cabang ilmu, dan pemikiran semacam ini ingin mengetahui hubungan antara cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya. Integralitas pemikiran kefilsafatan juga memikirkan hubungan ilmu dengan moral, seni dan pandangan hidup.
b. Mendasar, artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang fundamental (keluar dari gejala). Hasil pemikiran tersebut dapat dijadikan dasar berpijak segenap nilai dan masalah-masalah keilmuan (science).
c. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan garapan (obyek) yang baru pula. Keadaan ini senantiasa bertambah dan berkembang meskipun demikian bukan berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah selesai seperti ilmu-ilmu diluar filsafat.
Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala benda. Oleh karena itu dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat sebagai refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya, tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda.
Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
A. Pembagian filsafat menurut Aristoteles
1. Logika yaitu tentang bentuk susunan pikiran.
2. Filosofia teoritika yang diperinci atas
a. Fisika yaitu tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya)
b. Matematika yaitu tentang barang menurut kuantitasnya.
c. Metafisika yaitu tentang ada.
3. Filosofia praktika, tentang hidup kesusilaan (berbuat)
a. Etika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup perorangan.
b. Ekonomi yaitu tentang kesusilaan dalam kekeluargaan.
c. Politika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup kenegaraan.
4. Filosofia poetika/aktiva (pencipta)
Fisafat kesenian.

Pembagian ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan waktu itu, jadi apa yang sekarang dipandang termasuk ilmu pengetahuan, dimasukkan didalamnya (khususnya bagian fisika). Sekarang dengan tugas dibedakan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Maka pembagian filsafat seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles telah ketinggalan, jadi harus disesuaikan dengan perkembangan modern.
B. Warisan
Karya Aristoteles amat banyak dan terwariskan kepada kita. Ia bukan saja ahli filsafat, akan tetapi ahli semua ilmu yang terkenal pada waktu itu. Biasanya karya Aristoteles dibagi atas empat golongan:
1. Logika : biasanya disebut organon (alat) membentangkan tentang pengertian, putusan, syllogismus, bukti dan lain-lainnya.
2. Fisika : tentang alam, langit, bintang, hewan, jiwa dan lain-lainnya.
3. Metafisika : buku-buku yang terutama tentang filsafat.
4. Pengetahuan praktis : Ethica Eudemia, Ethica Nichomachea, kedua-keduanya tentang tingkah laku, Republica Atheniensium (tatanegara Atena), Rhetorica (tentang berceramah dan berpidato) dan Poetica.
C. Logika
Biji ajaran Aristoteles tentang logika berdasarkan ajaran tentang jalan pikiran (ratiocinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus, yaitu putusan dua yang tersusun demikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga.
D. Ontologia
Ajaran Aristoteles tentang fisika dan metafisika umum (ontologia) tidak selalu dapat dibeda-bedakan atau dipisah-pisahkan. Yang penting bagi kita ialah metafisikanya. Menurutnya yang sungguh-sungguh ada itu bukanlah yang umum, melainkan yang khusus, satu per satu.
E. Hule dan Morfe
Unsur yang menjadi dasar permacam-macaman ini disebut oleh Aristoteles hule, adapun unsur kesatuan itu sebutnya morfe. Tiap-tiap benda yang konkrit terdiri dari hule dan morfe, karena hulenya maka benda itu benda itulah (bukan benda yang lain), karena morfenya mempunyai inti dan dari itu termasuk pada suatu macam dan dapat ditangkap oleh budi. Jadi menurut saya hule dan morfe saling mengisi dan ada keterkaitannya. Hule dan morfe ini merupakan satu kesatuan dan tak dapat dipisahkan, tak ada hule tanpa morfe, begitu pula sebaliknya.
F. Aktus dan Potensia
Pontesia ialah dasar kemungkinan, sedangkan aktus ialah dasar kesungguhannya. Barang sesuatu mungkin karena potensinya. Ia sudah ada karena aktusnya. Dalam hal yang konkrit itu maka hule merupakan potensia sedangkan morfenya merupakan aktus.
G. Abstraksi
Idea tidaklah merupakan realitas tersendiri didunia sendiri, melainkan sifat-sifat yang sama terdapat pada hal-hal yang kongkrit. Oleh karena semua hal yang semacam itu memiliki sifat itu, maka umumlah, oleh karena semua hal yang semacam itu harus memiliki sifat itu, maka mutlaklah ia, tetap tak berubah.
H. Antropologi dan etika
Filsafat Aristoteles tentang manusia sebetulnya tidak begitu terang seperti ajarannya tentang hal-hal diatas. Baginya manusia itu hal yang istimewa ia membeda-bedakan ada menurut kesempurnaan masing-masing. Ada terdapat ada segitu saja seperti logam dan lain-lain, terdapat pula ada hidup vegetatif, seperti tumbuh-tumbuhan, terdapat pula yang kecuali ada dan hidup vegetatif masih berasa, jadi sensitif, seperti binatang. Manusia disamping kesempurnaan ada yang ketiga diatas itu masihlah pula berbudi. Manusia tidak hanya ada saja dan pula hidup vegeatif serta sensitif, melainkan juga rasionil. Baginya yang sensitif dan vegetatif itu kena rusak maka karena itu akan mati, adapun rasionil tidaklah kena mati, karena merupakan roh. Bagian yang roh dan bagian yang mendukung budinya ini akan terus ada, setelah manusia meninggal.
Menurut Aristoteles tujuan tertinggi yang dicapai ialah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan ini bukan kebahagiaan yang subjektif, tetapi suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu yang termasuk keadaan bahagia itu terdapat pada manusia. Tujuan yang dikejar adalah demi kepentingan diri sendiri, bukan demi kepentingan orang lain. Isi kebahagiaan tiap makhluk yang berbuat ialah, bahwa perbuatan sendiri bersifatnya khusus itu disempurnakan. Jadi kebahagiaan manusia terletak disini, bahwa aktifitas yang khas miliknya sebagai manusia itu disempurnakan. Padahal cirri khas manusia ialah bahwa ia adalah makhluk rasional. Jadi puncak perbuatan kesusilaan manusia terletak dalam perkiraan murni. Kebahagiaan manusia yang tertinggi, yang dikejar oleh tiap manusia ialah berpikir murni. Tetapi puncak itu hanya dicapai oleh para dewa, manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya.
Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu “berubah” (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.
Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata,, dan  berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.
Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih “hylemorfisme”: apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk (“morphe”) yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan (“dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.
Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”. Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah “yang menanam”. Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan “substansi”.
Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama “jiwa” (“psyche”, Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat “mengamati” dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup “mengerti” dunia dalam dirinya. Jiwa manusia dilengkapi dengan “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima “logoz”. Itu membuat manusia memiliki bahasa.
Pemikiran Aristoteles merupakan harta karun umat manusia yang berbudaya. Pengaruhnya terasa sampai kini, — itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga.
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon (“alat”) untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing. 

KARYA – KARYA ARISTOTELES

Karya ini berjumlah 19 buah yang disusun dalam bentuk dialog. Karya ini ditulis ketika Aristoteles berada di Akademia dan dikarang dengan bahasa yang memikat hati. 3 dialog yang masih cukup diketahui, yakni:

1.    Eudomos/ Perihal Jiwa
Dialog ini mengambil dialog Plato yang bernama Phaidon. Sebagai contohnya Aristoteles menerima beberapa titik ajaran Plato seperti pra – eksistensi  jiwa, perpindahan jiwa dan anggapan bahwa pengetahuan dapat disamakan dengan pengingatan.
2.    Protreptikos
Suatu dialog yang mempertentangkan pengetahuan teoritis yang diutamakan dalam Akademia dengan pengetahuan pragmatis yang dipraktekkan dalam sekolah Isokrates, saingan Akademia.
3.    Perihal Berfilsafat
Terdiri dari 3 buku. Pertama berbicara mengenai perkembangan umat manusia. Kedua mengenai kritik tajam atas ajaran Plato mengenai idea-idea. Ketiga mengenai Allah dan susunan kosmos.
2.   Karya-Karya yang Digunakan dalam Traktat Ilmiah
Sebagian karya-karya ini disusun oleh Aristoteles sendiri dan sebagian oleh murid-muridnya di bawah pimpinan Aristoteles. Karya-karya yang masih disimpan ialah Historia animalium (= penyelidikan mengenai bintang-bintang); dan Athênaiôn politeis (= tata negara Athena), ditemukan pada tahun 1890 dalam padang pasir di Mesir, yang mengumpulkan UUD dari 158 negara Yunani.
3.   Traktat yang dikarang Aristoteles Sehubungan dengan Pengajarannya
Sebagian kecil traktat ini berasal dari murid-murid yang dibuat waktu kuliah-kuliah Aristoteles. Bahasa yang digunakan bersifat padat, lugas, dan sarat dengan peristilahan teknis. Penerbitan manuskrip-manuskrip Aristoteles, setelah melalui sejarah yang panjang, dilaksanakan oleh Andronikos dari Rhodos kira-kira 40 s.M. Dia adalah orang pertama yang mencoba menentukan yang mana di antara karya-karya Aristoteles boleh dianggap otentik dan yang mana harus dikenakan kepada murid-muridnya. Karya tersebut dibedakan dalam 8 kelompok:
1.     Logika
1. Categoriae (= kategori-kategori): otemisitasnya dipersoalkan, tetapi banyak ahli cenderung berpikir bahwa karya ini betul-betul ditulis oleh Aristoteles.
2. De interpretatione (= Perihal penafsiran).
3. Analytica priora (= Analitika yang lebih dahulu): analitika adalah nama yang dipakai Aristoteles untuk logika.
4. Analytica posteriora (= Analitika yang kemudian).
5. Topica: terdiri dari 8 buku
6. De sophisticis elenchis (= Tentang cara berargumentasi kaum Soris): karya ini kadang dianggap sebagai buku IX dari Topica.
2.     Filsafat Alam
1. Phisica: 8 buku.
2. De calo (= Perihal langit): 4 buku.
3. De generatione et corruptione (= Tentang timbul hilangnya makhluk-makhluk jasmani): 2 buku.
4. Meteorologica (= Ajaran tentang badan-badan jagat raya): terdiri dari 4 buku, tetapi buku yang terakhir dianggap tidak otentik.
3.     Psikologi
1. De anima (= Perihal jiwa): 3 buku.
2. Parva naturalia (= Karangan-karangan kecil mengenai pokok-pokok alamiah).
4.    Biologi
1. De partibus animalium (= Perihal bagian-bagian binatang).
2. De motu animalium (= Perihal gerak binatang-binatang).
3. De incessu animalium (= Tentang hal berjalan binatang-binatang).
4. De generatione animalium (= Perihal kejadian binatang-binatang).
5.     Metafisika
1. Metaphysica:  terdiri dari 14 buku; nama “metafisika” tidak dipakai oleh Aristoteles sendiri; ia menamakan ilmu pengetahuan ini sebagai “filsafat pertama” dan juga theologia.
6.     Etika
1. Ethica Nicomachea: terdiri dari 10 buku; nama ini diberikan karena – menurut kesaksian tradisi – anak Aristoteles yang bernama Nikomakhos telah menyusun karya ini sesudah bapanya meninggal.
2. Magna moralia (= Karangan-karangan besar tentang moral): terdiri dari 2 buku.
3. Ethica Eudemia:  terdiri dari 7 buku.
7.     Politik dan Ekonomi
1. Politica: 8 buku.
2. Economica: terdiri dari 3 buku.
8.     Retorika dan Poetika
1. Rhetorica: 3 buku.
2. Poetica: bersifat fragmentaris, tetapi dianggap otentik.

logikanya di sebut logika modern. Logika Aristoteles itu sering juga di sebut logika formal. Bila orang – orang shopis banyak menganggap manusia tidak mammpu memperoleh kebenaran, tapi Aristoteles dalam metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran.



Yunani Kuno/Filsafat/Plato

 RIWAYAT HIDUP
Plato (bahasa Yunani: Πλάτων) (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal".[butuh rujukan] Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.[butuh rujukan] Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).
  Ia mendirikan sebuah sekolah di tempat asalnya yang diberi nama “Akademia”. Sokrates menilai Plato sebagai muridnya yang termasyur. Dari sebab itu, pemikiran Plato dalam seminar-seminarnya selalu diikuti oleh Sokrates. Plato berasal dari keluarga aristokrat, yakni politikus besar Athena. Cita-cita besar Plato adalah mengajarkan filsafat kepada semua orang, terutama kepada orang-orang muda. Keinginan itu mendorong dia untuk mendirikan perguruan tinggi yang pertama, yang boleh dianggap sebagai pelopor lahirnya universitas-universitas pada Abad Pertengahan dan zaman modern.

 Plato (plateau) juga dapat berarti dataran tinggi

 
PEMIKIRAN PLATO
 

Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi

Idea-idea

Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi.Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern.Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja.[butuh rujukan] Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap.Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”.Idea ini melampaui segala idea yang ada.

Dunia Indrawi

Dunia indrawi adalah dunia hitam yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal.Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini.Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.

Dunia Idea

Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna.Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".

Pandangan Uphy tentang Karya Seni dan Keindahan

Pandangan Cippe Plato tentang Karya Seni

Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik).Plato memandang negatif karya seni.Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli.Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide.Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.

Pandangan Plato tentang Keindahan

Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus.[butuh rujukan] Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide.[butuh rujukan] Ia berpendapat bahwa Kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni.[butuh rujukan] Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah

Karya-karya

1.   Otentisitas
Daftar ini menyebutkan 36 karya Plato (surat-surat dihitung sebagai satu karya) yang terbagi atas 9, ”tetralogis” (grup yang meliputi empat karya). Kebanyakan ahli sepakat mengatakan bahwa dari 36 karya itu ada enam dialog yang tidak dapat dianggap otentik, yaitu: Alkibiadês II, Hipparkhos, Erastai, Theagês, Klitophôn, Minos. Dan ada enam karya lain lagi yang otentisitasnya dipersoalkan: Alkhiadês I, Iôn, Menexênos, Hippias Maior, Epinomis, Surat-surat.
Surat-surat ini merupakan dokumen-dokumen utama yang utama yang masih dimiliki. Sekarang ini kebanyakan sejarawan menerima surat VI, VII,dan VIII sebagai otentik. Otentisitas Surat I secara umum ditolak dan Surat XII sangat diragukan. Namun, semua itu merupakan dokumen-dokumen utama yang kita miliki mengenai riwayat hidup Plato.
2.   Kronologi
Apabila kita berhasil menentukan suatu urutan kronologis bagi karangan-karangan Plato, mungkin terbuka jalan untuk menyelidiki apakah terdapat suatu perkembangan dalam pemikiran Plato, sebab jika urutan kronologis itu tidak dapat dipastikan, penyelidikan mengenai perkembangan  dalam pemikiran Plato tidak mempunyai dasar yang teguh dan tidak dapat melebihi dari taraf dugaan saja. Dengan menyelidiki secara terperinci gaya bahasa yang digunakan dalam dialog-dialog Plato, para sarjana menentukan bahwa sekelompok dialog (Sophistês, Politikos, Philebos, Timaios, Kritias, Nomoi) telah dikarang dalam periode lain daripada dialog-dialog lain. Keenam dialog ini disimpulkan, ditulis Plato dalam periode terakhir hidupnya. Dialog-dialog Plato dibagi atas tiga periode:
  1. Apologia, Kritôn, Eutyphrôn, Lakhês, Kharmidês, Lysis, Hippias Minor, Menôn, Gorgias, Protagoras, Euthydêmos, Kratylos, Phaidôn, Symposion. (Beberapa ahli menyangka bahwa salah satu dari dialog-dialog ini sudah ditulis sebelum kematian Sokrates , tetapi kebanyakan berpikir bahwa dialog pertama ditulis tidak lama sesudah kematian Sokrates).
  2. Politeia, Phaidros, Parmenidês, Theaitêtos (Theaitêtos dan parmenidês ditulis tidak lama sebelum perjalanan kedua ke Sisilia, tahun 367).
  3. Sophistês, Politikos, Philebos, Timaios, kritias, Nomoi (Dialog-dialog ini ditulis sesudah perjalanan ketiga ke Sisilia, ketika urusannya dengan kesulitan-kesulitan politik di Sisilia sudah selesai).
Sifat Khusus Filsafat Plato
1.   Bersifat Sokratik
Pertemuan Plato dengan Sokrates gurunya merupakan peristiwa yang menentukan, bahkan merubah hidup Plato. Menurutnya, Sokrates adalah orang yang paling baik, paling bijaksana,  paling jujur, dan manusia yang paling adil dari seluruh manusia sezamannya. Dalam karya-karya Plato, Sokrates diberi tempat yang sentral, dan memainkan peranan yang dominan. Hermann Diels mengatakan bahwa Plato seakan-akan bersumpah untuk membuat nama Sokrates menjadi “immortal”. Berdasarkan hal ini, filsafat Plato menjadi bersifat sokratik.
Plato sangat sedih karena justru rezim demokratislah yang menghukum dan membunuh gurunya yang tercinta itu. Seluruh filsafat Plato dilihat sebagai refleksi atas peristiwa yang menyedihkan yang merenggut nyawa gurunya itu. Melalui kematian Sokrates, Plato meyakini bahwa negara Athena pasti tidak beres. Maka, sebagai seorang filsuf, ia menaruh hampir seluruh perhatiannya kepada negara. Bagaimana seharusnya negara ideal? Sebuah pertanyaan yang dijawab Plato dalam dialog politeia, yang oleh banyak ahli sejarah filsafat dianggap sebagai karya sentral dan seluruh pemikiran Plato. Dan dialog panjang yang berjudul Nomoi, yakni karya terakhir yang ditulis Plato dan yang diedarkan oleh para muridnya sesudah ia meninggal - membicarakan juga soal negara. Plato menekankan kepada masarakat Athena supaya hanya para filsuflah yang harus dijadikan penguasa negara. Penekanan ini boleh dipandang sebagai buah hasil refleksi Plato atas kematian Sokrates.
2.   Filsafat Sebagai Dialog
Semua karya yang ditulis Plato merupakan dialog-dialog, kecuali surat-surat dan apologia. Ia merupakan filsuf pertama dalam sejarah filsafat yang memilih dialog sebagai bentuk sastra untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya. Apa sebabnya Plato senang menulis karyanya dalam bentuk dialog?
  1. Plato mempunyai hubungan erat dengan sifat ”Sokratik” yang telah diuraikan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada bentuk sastra yang lebih cocok untuk menghormati Sokrates daripada dialog.
  2. Plato berkeyakinan bahwa filsafat menurut intinya tidak lain daripada suatu dialog. Berfilsafat berarti mencari kebijaksanaan atau kebenaran, yang sebaiknya dilakukan bersama-sama dalam suatu dialog, di mana orang A dapat mengoreksi orang B dan sebaliknya.
Karena karangan filsafat Plato berupa dialog, maka uraian pemikirannya kurang bersifat sistematis menurut para ahli. Filsafat Plato menyajikan rupa-rupa pokok yang menyangkut seluruh ilmu pengetahuan pada waktu itu, namun tidak ada satu pokok yang dipercakapkan secara sistematis.