Kamis, 14 Januari 2016
CICERO
Negara Ideal dan Hukum Alam
Cicero bersama Plato, dan Polybius adalah pembela gigih dari kegunaan sosial dari agama. Cicero percaya bahwa agama melegitimasi tindakan- tindakan pemerintah dan membujuk para warga negara untuk menghormati institusi- institusi mereka dan penghargaan terhadap para penguasa serta kebijakan- kebijaknnya, jadi mencipatakan satu basis dukungan yang luas dan loyalitas yang bertahan lama. Singkatnya agama adala pondasi mutlak yang krusial bagi pendidikan dan keluhuran sipil, kesatuan dan ketertiban negara. Alasan- alasan Cicero mengapa agama penting bagi negara adalah yang utama, agama memberikan kewenangan kepada negara sehingga memungkinkannya memerintahkan loyalitas dan kepatuhan dari warga negara. Seandainya negara dianggap didirikan oleh dewa, maka seluruhnya yang dikerjakan memiliki legitimasi. Para warga negara yang akhirnya percaya bahwa dewa- dewa selalu mengawasi, akan berhati- hati dalam perilaku individual mereka dan mencermati sikap- sikap buruk mereka, sepertinya akan menuruti petunjuk moral dan komunitas. Akhirnya pengaruh sosial bersih dari agama adalah penjinakan dan menenangkan rakyat. Ia mengangkat rakyat keluar dari kebiadaban dan barbarisme dan menjadi instrumen dalam pembentukan suatu jalan hidup ang harmoni, sempurna dan beradab. Melalui agama sebuah masyarakat yang damai dan tertib adapat diteguhkan, memiliki moral, kegigihan, kekuatan yang diperlukan untuk penjagaan diri dari dunia yang kejam.
SOCRATES
Socrates
RIWAYAT HIDUP
(Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) (469 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.
Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.
Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah penggambaran Socrates dalam dialog-dialog yang ditulis oleh Plato. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.
Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
PEMIKIRAN
Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Socrates karena setelah penyelidikan itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Socrates melalui peradilan dengan tuduhan merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya bisa dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.
Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu "kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato.
a. Tentang metode berfilsafat
Socrates adalah filsuf Athena pertama yang mengajarkan cara berfikir dengan konsep pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada lawan bicara. Hal ini bias kita anggap sebagai metode dialektika, sebab setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kita lontarkan pada lawan bicara maka kita pula akan mencari jawaban kedua, ketiga, dan seterusnya sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dari jawaban-jawaban tadi. Hal ini mungkin bisa kita katakan juga sebagai metode induksi sebab jika di telaah secara mendalam maka kesimpulan yang kita ambil tadi adalah merupakan kesimpulan yang umum dari berbagai jawaban yang bersifat khusus. Sebagai contoh ketika Socrates bertanya pada mahasiswanya
’’pengetahuan itu apa? Mahasiswa itu akan menjawab ilmu pasti, ilmu perbintangan dan lain sebagainya. Socrates menyela,’bukan itu yang kumaksud akan tetapi adalah pengertian dari pengetahuan? Maka mahasiswa itu akan menjawab lagi’’pengetahuan adalah penglihatan, sebab apa yang saya lihat merupakan pengetahuan yang saya dapatkan’’
Begitulah cara Socrates dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaanya sehingga pada akhirnya dia dapat menarik sebuah kesimpulan dari banyaknya jawaban yang didapatkanya. Metode berfilsafat yang ditawarkanya ini adalah sebuah metode berfikir yang nantinya akan dikembangkan oleh para murid maupun sahabat-sahabatnya seperti xenhopon, ariestoteles, plato, dan ariestophanes. Inilah yang mungkin menurut kita semua menjadi proses awal terbentuknya metode berfikir induksi seperti apa yang dijalankan oleh ariestoteles pada zaman yunani kuno dan francis bacon pada zaman renaisains, kemudian dijerman seorang filsuf yang bernama Hegel yang mencoba menawarkan metode berfikir seperti ini. Oleh karena itu kita perlu memberikan suatu apresiasi yang besar atas pemikiran Socrates ini sebab metode berfikir seperti ini banyak digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari dan juga metode ini menawarkan sikap yang ideal dalam menghadapi semua permasalahan kehidupan yang sangat kompleks ini.
b. Tentang objek baru dalam penelitian filsafat
Socrates adalah sosok yang sangat berbeda dari para filsuf yang ada sebelum dirinya, hal ini dapat kita lihat dari permasalahan objek kajian filsafat bagi Socrates. Objek yang sangat penting bagi filsafat menurutnya bukanlah lagi alam seperti apa yang telah disinggung oleh para pendahulunya, akan tetapi adalah manusia. Hal ini dikarenakan manusia adalah segala yang menjadi penentu alam atu pemelihara alam sehingga manusia bagi Socrates haruslah menjadi sosok yang bersifat melindungi baik alam maupun sesamanya. Karena itulah seorang filsuf Roma yang bernama seperti dalam kutipanya mengatakan bahwasanya’’socrates telah menurunkan filsafat dari langit dan telah menyebarkanya demi kebaikan umat manusia, ia mengganttarkanya ke kota-kota, memperkenalkanya ke rumah-rumah, dan memaksanya untuk menelaah khidupan, etika, dan kebaikan’’
Karena pandangan seperti ini maka tak jarang Socrates pada masanya sering dikatakan sebagai seorang nabi yang telah diutus oleh yang maha kuasakedunia ini untuk menjalankan dan menyebarkan segala bentuk keadilan agar dunia ini menjadi tertata dengan sebaik-baiknya. Olehnya Socrates dalam kehidupanya jarang sekali membicarakan masalah alam atau nature, sebab baginya alam adalah urusan tuhan. Apakah dunia ini dijadikan dari apa dan untuk tujuan apa itu merupakan urusan tuhan semata, manusia hanyalah pemelihara alam yang telah dititipkan kepada kita sebagai mahluk yang berakal. Hal inilah juga yang menyebabkan para sejarawan modern tidak memasukan Socrates dalam kumpulan filsuf alam sebagaimana thales, phytaghoras, anaximendes, Heraclitus, Democritus, dan lain-lain.
c. Tentang etika dan jiwa
Dalam konsep etika Socrates kita akan dikenalkan pada konsep ‘’eudomonia’’ yang artinya kebahagiaan. Kebahagiaan ini adalah menjadi tujuan tertinggi manusia dan sekaligus menjadi ketenangan jiwa bagi manusia itu sendiri. Jiwa menjadi tenang diakibatkan dalam jiwa itu telah terdapat banyak kebaikan-kebaikan yang dengan itu manusia bisa mencapai suatu kebahagiaan yang hakiki. Jika seorang manusia telah menemukan kebahagiaan yang menjadi tujuan itu maka diri dan jiwanya akan mendapatkan atau secara inheren akan melekat suatu sikap yang Socrates menyebutnya dengan ‘’keutamaan’’.
Socrates mengatakan bahwa’’tujuan tertinggi manusia adalah membuat diri dan jiwanya menjadi sebaik mungkin’’, yang dimaksud jiwa disini bagi Socrates adalah kepribadian yang menjadi intisari manusia. Kepribadian atau jiwa manusia ini jika baik maka jiwa itu akan mendapatkan suatu keutamaan yang sangat tinggi dan tidak mungkin jiwa yang baik itu akan memalingkan dirinya dari suatu keutamaan. Hal ini dikarenakan jiwa itu telah mencapai konsep eudomonia tadi yaitu kebahagiaan tertinggi yang menjadi tujuan hidup manusia. Keutamaan ini memiliki suatu kebaikan yang pasti melekat padanya sampai kapanpun sebagai contoh ketika seseorang memiliki keutamaan sebagai pemahat patung maka patung yang akan dihasilkanya adalah patung yang bagus dan baik sebab memahat telah menjadi keutamaannya.
Keutamaan dan kebaikan adalah dua hal yang sangat koheren atau berkaitan, sebab tidak akan mungkin seseorang yang telah memiliki keutamaan maka ia akan menghasilkan hasil yang buruk. Seseorang dikatakan memiliki keutamaan apabila sesuatu yang dihasilkanya selalu dalam kualitas baik dan tidak memiliki keutamaan jika yang dihasilkanya belum berkuualitas baik atau masih buruk. Selanjutnya Socrates membagi keutamaan menjadi tiga bagian pertama jika manusia melakukan suatu kesalahan dengan sengaja maka ia tidak mempunyai pengetahuan tentang kebaikan, sebab jika seseorang melakukan keburukan dengan sengaja maka berarti ia belum paham bahwa yang dilakukanya itu adalah sebuah keburukan. Kedua keutamaan itu menyeluruh, contohnya ketika seseorang memiliki sifat tidak sombong, maka secara otomatis dia juga adalah sosok yang adil, baik, dan sebagainya, sebab keutamaan itu tidak mungkin hanya memiliki satu kebaikan saja. Ketiga keutamaan itu adalah pengetahuan, maka keutamaan itu bisa kita ajarkan pada orang lain.
Itulah beberapa pembagian keutamaan bagi Socrates yang dapat kita jadikan sebagai acuan dalam hidup ini supaya tetap berbuat baik, akan tetapi tidak ada salahnya juga bila kita mengkritiknya. Tentunya ini bukan merupakan acuan kita satu-satunya tapi jika diteliti secara seksama maka etika yang ditawarkanya ini bisa di anggap sebagai motivasi bagi kita dalam hidup ini.
ARISTOTELES
Aristoteles
(bahasa Yunani: ‘Aριστοτέλης Aristotélēs), (384 SM – 322 SM) adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung. Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi.Bersama dengan Socrates dan Plato, ia dianggap menjadi seorang di antara tiga orang filsuf yang paling berpengaruh di pemikiran Barat.
Riwayat hidup
Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun.Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia.
Saat Alexander berkuasa pada tahun 336 SM, ia kembali ke Athena Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami Socrates.[Aristoteles meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut.Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.
PEMIKIRAN ARISTOTELES TENTANG FILSAFAT
Pemikiran kefilsafatan memiliki cirri-ciri khas (karateristik)
tertentu, sebagian besar filosof berbeda pendapat mengenai karateristik
pemikiran kefilsafatan. Apabila perbedaan pendapat tersebut dipahami
secara teliti dan mendalam, maka karateristik pemikiran kefilsafatan
tersebut terdiri dari:
a. Menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi
beberapa sudut pandang. Pemikiran kefilsafatan meliputi beberapa cabang
ilmu, dan pemikiran semacam ini ingin mengetahui hubungan antara cabang
ilmu yang satu dengan yang lainnya. Integralitas pemikiran kefilsafatan
juga memikirkan hubungan ilmu dengan moral, seni dan pandangan hidup.
b. Mendasar, artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang
fundamental (keluar dari gejala). Hasil pemikiran tersebut dapat
dijadikan dasar berpijak segenap nilai dan masalah-masalah keilmuan
(science).
c. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar
bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu
dimaksudkan sebagai medan garapan (obyek) yang baru pula. Keadaan ini
senantiasa bertambah dan berkembang meskipun demikian bukan berarti
hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah selesai
seperti ilmu-ilmu diluar filsafat.
Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala
benda. Oleh karena itu dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat
sebagai refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan
sekitarnya, tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan
tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri
akan ikut mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis.
Oleh karenanya dalam sejarah pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir
ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke zaman dengan tema
yang berbeda-beda.
Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu
yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
A. Pembagian filsafat menurut Aristoteles
1. Logika yaitu tentang bentuk susunan pikiran.
2. Filosofia teoritika yang diperinci atas
a. Fisika yaitu tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya)
b. Matematika yaitu tentang barang menurut kuantitasnya.
c. Metafisika yaitu tentang ada.
3. Filosofia praktika, tentang hidup kesusilaan (berbuat)
a. Etika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup perorangan.
b. Ekonomi yaitu tentang kesusilaan dalam kekeluargaan.
c. Politika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup kenegaraan.
4. Filosofia poetika/aktiva (pencipta)
Fisafat kesenian.
Pembagian ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan waktu itu,
jadi apa yang sekarang dipandang termasuk ilmu pengetahuan, dimasukkan
didalamnya (khususnya bagian fisika). Sekarang dengan tugas dibedakan
antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Maka pembagian filsafat seperti
yang dikemukakan oleh Aristoteles telah ketinggalan, jadi harus
disesuaikan dengan perkembangan modern.
B. Warisan
Karya Aristoteles amat banyak dan terwariskan kepada kita. Ia
bukan saja ahli filsafat, akan tetapi ahli semua ilmu yang terkenal pada
waktu itu. Biasanya karya Aristoteles dibagi atas empat golongan:
1. Logika : biasanya disebut organon (alat) membentangkan tentang pengertian, putusan, syllogismus, bukti dan lain-lainnya.
2. Fisika : tentang alam, langit, bintang, hewan, jiwa dan lain-lainnya.
3. Metafisika : buku-buku yang terutama tentang filsafat.
4. Pengetahuan praktis : Ethica Eudemia, Ethica Nichomachea,
kedua-keduanya tentang tingkah laku, Republica Atheniensium (tatanegara
Atena), Rhetorica (tentang berceramah dan berpidato) dan Poetica.
C. Logika
Biji ajaran Aristoteles tentang logika berdasarkan ajaran tentang
jalan pikiran (ratiocinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa
syllogismus, yaitu putusan dua yang tersusun demikian rupa sehingga
melahirkan putusan yang ketiga.
D. Ontologia
Ajaran Aristoteles tentang fisika dan metafisika umum (ontologia)
tidak selalu dapat dibeda-bedakan atau dipisah-pisahkan. Yang penting
bagi kita ialah metafisikanya. Menurutnya yang sungguh-sungguh ada itu
bukanlah yang umum, melainkan yang khusus, satu per satu.
E. Hule dan Morfe
Unsur yang menjadi dasar permacam-macaman ini disebut oleh
Aristoteles hule, adapun unsur kesatuan itu sebutnya morfe. Tiap-tiap
benda yang konkrit terdiri dari hule dan morfe, karena hulenya maka
benda itu benda itulah (bukan benda yang lain), karena morfenya
mempunyai inti dan dari itu termasuk pada suatu macam dan dapat
ditangkap oleh budi. Jadi menurut saya hule dan morfe saling mengisi dan
ada keterkaitannya. Hule dan morfe ini merupakan satu kesatuan dan tak
dapat dipisahkan, tak ada hule tanpa morfe, begitu pula sebaliknya.
F. Aktus dan Potensia
Pontesia ialah dasar kemungkinan, sedangkan aktus ialah dasar
kesungguhannya. Barang sesuatu mungkin karena potensinya. Ia sudah ada
karena aktusnya. Dalam hal yang konkrit itu maka hule merupakan potensia
sedangkan morfenya merupakan aktus.
G. Abstraksi
Idea tidaklah merupakan realitas tersendiri didunia sendiri,
melainkan sifat-sifat yang sama terdapat pada hal-hal yang kongkrit.
Oleh karena semua hal yang semacam itu memiliki sifat itu, maka umumlah,
oleh karena semua hal yang semacam itu harus memiliki sifat itu, maka
mutlaklah ia, tetap tak berubah.
H. Antropologi dan etika
Filsafat Aristoteles tentang manusia sebetulnya tidak begitu
terang seperti ajarannya tentang hal-hal diatas. Baginya manusia itu hal
yang istimewa ia membeda-bedakan ada menurut kesempurnaan
masing-masing. Ada terdapat ada segitu saja seperti logam dan
lain-lain, terdapat pula ada hidup vegetatif, seperti tumbuh-tumbuhan,
terdapat pula yang kecuali ada dan hidup vegetatif masih berasa, jadi
sensitif, seperti binatang. Manusia disamping kesempurnaan ada yang
ketiga diatas itu masihlah pula berbudi. Manusia tidak hanya ada saja
dan pula hidup vegeatif serta sensitif, melainkan juga rasionil. Baginya
yang sensitif dan vegetatif itu kena rusak maka karena itu akan mati,
adapun rasionil tidaklah kena mati, karena merupakan roh. Bagian yang
roh dan bagian yang mendukung budinya ini akan terus ada, setelah
manusia meninggal.
Menurut Aristoteles tujuan tertinggi yang dicapai ialah
kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan ini bukan kebahagiaan yang
subjektif, tetapi suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga segala
sesuatu yang termasuk keadaan bahagia itu terdapat pada manusia. Tujuan
yang dikejar adalah demi kepentingan diri sendiri, bukan demi
kepentingan orang lain. Isi kebahagiaan tiap makhluk yang berbuat ialah,
bahwa perbuatan sendiri bersifatnya khusus itu disempurnakan. Jadi
kebahagiaan manusia terletak disini, bahwa aktifitas yang khas miliknya
sebagai manusia itu disempurnakan. Padahal cirri khas manusia ialah
bahwa ia adalah makhluk rasional. Jadi puncak perbuatan kesusilaan
manusia terletak dalam perkiraan murni. Kebahagiaan manusia yang
tertinggi, yang dikejar oleh tiap manusia ialah berpikir murni. Tetapi
puncak itu hanya dicapai oleh para dewa, manusia hanya dapat mencoba
mendekatinya dengan mengatur keinginannya.
Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan
segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu “berubah”
(menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup
selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal
abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah
melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki
eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada
(sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam
benda-benda.
Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut
Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita,
sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat
dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa
manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang
masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun
justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari
makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia
mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak
ada idea-bawaan.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan
demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode
rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode
rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi
yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua
premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam
logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara
berfikir. Logika dibentuk dari kata,, dan berarti
sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan
pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa.
Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang
sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun
pernyataan yang berlaku universal.
Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk
mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda
dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan
memilih “hylemorfisme”: apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu
merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk
(“morphe”) yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau
substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi
kemungkinan (“dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan
(aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka
ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama.
Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan
kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.
Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan
bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”. Dalam reproduksi, wanita
bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua
sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma
pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih,
sementara pria adalah “yang menanam”. Dalam bahasa filsafat
Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan
“substansi”.
Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama
“jiwa” (“psyche”, Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki
sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat “mengamati” dunia secara
inderawi, tetapi juga sanggup “mengerti” dunia dalam dirinya. Jiwa
manusia dilengkapi dengan “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”)
yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima “logoz”. Itu
membuat manusia memiliki bahasa.
Pemikiran Aristoteles merupakan harta karun umat manusia yang berbudaya.
Pengaruhnya terasa sampai kini, — itu berkat kekuatan sintesis dan
konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal
pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan
gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan
rasional-deduktif tersebut diatas.
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun
kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke
India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah
satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan
di wilayah Timur Tengah juga.
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk
mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang
penalaran, berperan sebagai organon (“alat”) untuk sampai kepada
pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria
yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau
sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak
ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja
fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam
Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia
dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh
Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan
The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan
produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang
tersedia dalam zamannya masing-masing.
KARYA – KARYA ARISTOTELES
Karya ini berjumlah 19 buah yang disusun dalam bentuk dialog. Karya ini ditulis
ketika Aristoteles berada di Akademia dan dikarang dengan bahasa yang
memikat hati. 3 dialog yang masih cukup diketahui, yakni:
1. Eudomos/
Perihal Jiwa
Dialog ini mengambil dialog Plato yang bernama Phaidon. Sebagai contohnya Aristoteles menerima
beberapa titik ajaran Plato seperti pra – eksistensi jiwa, perpindahan jiwa dan anggapan bahwa
pengetahuan dapat disamakan dengan pengingatan.
2. Protreptikos
Suatu dialog yang mempertentangkan pengetahuan
teoritis yang diutamakan dalam Akademia dengan pengetahuan pragmatis yang
dipraktekkan dalam sekolah Isokrates, saingan Akademia.
3. Perihal
Berfilsafat
Terdiri dari 3 buku. Pertama berbicara mengenai
perkembangan umat manusia. Kedua mengenai kritik tajam atas ajaran Plato
mengenai idea-idea. Ketiga mengenai Allah dan susunan kosmos.
2.
Karya-Karya yang Digunakan dalam Traktat Ilmiah
Sebagian karya-karya ini disusun oleh Aristoteles
sendiri dan sebagian oleh murid-muridnya di bawah pimpinan Aristoteles.
Karya-karya yang masih disimpan ialah Historia
animalium (= penyelidikan mengenai bintang-bintang); dan Athênaiôn politeis (= tata negara Athena), ditemukan
pada tahun 1890 dalam padang pasir di Mesir, yang mengumpulkan UUD dari 158
negara Yunani.
3.
Traktat yang dikarang Aristoteles Sehubungan dengan Pengajarannya
Sebagian kecil traktat ini berasal dari murid-murid
yang dibuat waktu kuliah-kuliah Aristoteles. Bahasa yang digunakan bersifat
padat, lugas, dan sarat dengan peristilahan teknis. Penerbitan manuskrip-manuskrip Aristoteles, setelah
melalui sejarah yang panjang, dilaksanakan oleh Andronikos dari Rhodos
kira-kira 40 s.M. Dia adalah orang pertama yang mencoba menentukan yang mana di antara
karya-karya Aristoteles boleh dianggap otentik dan yang mana harus dikenakan
kepada murid-muridnya. Karya tersebut dibedakan dalam 8 kelompok:
1. Logika
1. Categoriae (=
kategori-kategori): otemisitasnya dipersoalkan, tetapi banyak ahli cenderung
berpikir bahwa karya ini betul-betul ditulis oleh Aristoteles.
2. De
interpretatione (= Perihal penafsiran).
3. Analytica
priora (= Analitika yang lebih dahulu): analitika adalah nama yang dipakai
Aristoteles untuk logika.
4. Analytica
posteriora (= Analitika yang kemudian).
5. Topica: terdiri
dari 8 buku
6. De
sophisticis elenchis (= Tentang cara berargumentasi kaum Soris): karya ini
kadang dianggap sebagai buku IX dari Topica.
2. Filsafat Alam
1. Phisica: 8 buku.
2. De calo (= Perihal langit):
4 buku.
3. De generatione et corruptione
(= Tentang timbul hilangnya makhluk-makhluk jasmani): 2 buku.
4. Meteorologica (= Ajaran
tentang badan-badan jagat raya): terdiri dari 4 buku, tetapi buku yang terakhir
dianggap tidak otentik.
3. Psikologi
1. De anima (= Perihal jiwa): 3
buku.
2. Parva naturalia (= Karangan-karangan
kecil mengenai pokok-pokok alamiah).
4. Biologi
1. De partibus animalium (=
Perihal bagian-bagian binatang).
2. De motu animalium (= Perihal
gerak binatang-binatang).
3. De incessu animalium (=
Tentang hal berjalan binatang-binatang).
4. De generatione animalium (=
Perihal kejadian binatang-binatang).
5. Metafisika
1. Metaphysica:
terdiri dari 14 buku; nama
“metafisika” tidak dipakai oleh Aristoteles sendiri; ia menamakan ilmu
pengetahuan ini sebagai “filsafat pertama” dan juga theologia.
6. Etika
1. Ethica
Nicomachea: terdiri dari 10 buku; nama ini diberikan karena – menurut
kesaksian tradisi – anak Aristoteles yang bernama Nikomakhos telah menyusun
karya ini sesudah bapanya meninggal.
2. Magna
moralia (= Karangan-karangan besar tentang moral): terdiri dari 2 buku.
3. Ethica
Eudemia: terdiri dari 7 buku.
7. Politik dan Ekonomi
1. Politica: 8 buku.
2. Economica: terdiri dari 3
buku.
8. Retorika dan Poetika
1. Rhetorica: 3 buku.
2. Poetica: bersifat
fragmentaris, tetapi dianggap otentik.
logikanya di sebut logika modern. Logika Aristoteles itu sering juga di
sebut logika formal. Bila orang – orang shopis banyak menganggap
manusia tidak mammpu memperoleh kebenaran, tapi Aristoteles dalam
metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran.
Yunani Kuno/Filsafat/Plato
RIWAYAT HIDUP
Plato (bahasa Yunani: Πλάτων) (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal".[butuh rujukan] Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.[butuh rujukan] Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).
Ia mendirikan sebuah sekolah di tempat asalnya yang diberi nama “Akademia”.
Sokrates menilai Plato sebagai muridnya yang termasyur. Dari sebab itu,
pemikiran Plato dalam seminar-seminarnya selalu diikuti oleh Sokrates.
Plato berasal dari keluarga aristokrat, yakni politikus besar Athena.
Cita-cita besar Plato adalah mengajarkan
filsafat kepada semua orang, terutama kepada orang-orang muda. Keinginan
itu mendorong dia untuk mendirikan
perguruan tinggi yang pertama, yang boleh dianggap sebagai pelopor
lahirnya universitas-universitas pada Abad Pertengahan dan zaman modern.
Plato (plateau) juga dapat berarti dataran tinggi
PEMIKIRAN PLATO
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi
Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi.Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern.Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja.[butuh rujukan] Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea
dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap.Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”.Idea ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia Indrawi
Dunia indrawi adalah dunia hitam yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal.Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini.Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Dunia Idea
Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna.Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Pandangan Uphy tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan Cippe Plato tentang Karya Seni
Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik).Plato memandang negatif karya seni.Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli.Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide.Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus.[butuh rujukan] Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide.[butuh rujukan] Ia berpendapat bahwa Kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni.[butuh rujukan] Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah
Karya-karya
1.
Otentisitas
Daftar ini menyebutkan 36 karya Plato (surat-surat dihitung
sebagai satu karya) yang terbagi atas 9, ”tetralogis” (grup yang meliputi empat
karya). Kebanyakan ahli sepakat mengatakan bahwa dari 36 karya itu ada enam
dialog yang tidak dapat dianggap otentik, yaitu: Alkibiadês II, Hipparkhos, Erastai, Theagês, Klitophôn, Minos. Dan
ada enam karya lain lagi yang otentisitasnya dipersoalkan: Alkhiadês I, Iôn, Menexênos, Hippias Maior, Epinomis, Surat-surat.
Surat-surat ini merupakan dokumen-dokumen utama yang
utama yang masih dimiliki. Sekarang ini kebanyakan sejarawan menerima surat VI,
VII,dan VIII sebagai otentik. Otentisitas Surat I secara umum ditolak dan Surat
XII sangat diragukan. Namun, semua itu merupakan dokumen-dokumen utama yang
kita miliki mengenai riwayat hidup Plato.
2.
Kronologi
Apabila kita berhasil menentukan suatu urutan
kronologis bagi karangan-karangan Plato, mungkin terbuka jalan untuk
menyelidiki apakah terdapat suatu perkembangan dalam pemikiran Plato, sebab
jika urutan kronologis itu tidak dapat dipastikan, penyelidikan mengenai
perkembangan dalam pemikiran Plato tidak
mempunyai dasar yang teguh dan tidak dapat melebihi dari taraf dugaan saja.
Dengan menyelidiki secara terperinci gaya bahasa yang digunakan dalam
dialog-dialog Plato, para sarjana menentukan bahwa sekelompok dialog (Sophistês,
Politikos, Philebos, Timaios, Kritias, Nomoi) telah dikarang dalam periode
lain daripada dialog-dialog lain. Keenam dialog ini disimpulkan, ditulis Plato
dalam periode terakhir hidupnya. Dialog-dialog Plato dibagi atas tiga periode:
- Apologia, Kritôn, Eutyphrôn, Lakhês, Kharmidês, Lysis, Hippias Minor, Menôn, Gorgias, Protagoras, Euthydêmos, Kratylos, Phaidôn, Symposion. (Beberapa ahli menyangka bahwa salah satu dari dialog-dialog ini sudah ditulis sebelum kematian Sokrates , tetapi kebanyakan berpikir bahwa dialog pertama ditulis tidak lama sesudah kematian Sokrates).
- Politeia, Phaidros, Parmenidês, Theaitêtos (Theaitêtos dan parmenidês ditulis tidak lama sebelum perjalanan kedua ke Sisilia, tahun 367).
- Sophistês, Politikos, Philebos, Timaios, kritias, Nomoi (Dialog-dialog ini ditulis sesudah perjalanan ketiga ke Sisilia, ketika urusannya dengan kesulitan-kesulitan politik di Sisilia sudah selesai).
Sifat Khusus Filsafat Plato
1.
Bersifat
Sokratik
Pertemuan Plato dengan Sokrates gurunya merupakan peristiwa
yang menentukan, bahkan merubah hidup Plato. Menurutnya, Sokrates adalah orang yang
paling baik, paling bijaksana, paling
jujur, dan manusia yang paling adil dari seluruh manusia sezamannya. Dalam karya-karya
Plato, Sokrates diberi tempat yang sentral, dan memainkan peranan yang dominan.
Hermann Diels mengatakan bahwa Plato seakan-akan bersumpah untuk membuat nama
Sokrates menjadi “immortal”. Berdasarkan hal ini, filsafat Plato menjadi bersifat sokratik.
Plato sangat sedih karena justru rezim demokratislah yang menghukum dan
membunuh gurunya yang tercinta itu. Seluruh
filsafat Plato dilihat sebagai refleksi atas peristiwa yang menyedihkan
yang merenggut nyawa gurunya itu. Melalui kematian Sokrates, Plato
meyakini bahwa negara Athena pasti tidak beres. Maka, sebagai seorang
filsuf, ia menaruh hampir seluruh perhatiannya kepada negara. Bagaimana
seharusnya negara ideal? Sebuah pertanyaan yang dijawab Plato dalam
dialog politeia, yang oleh banyak ahli
sejarah filsafat dianggap sebagai karya sentral dan seluruh pemikiran Plato.
Dan dialog panjang yang berjudul Nomoi, yakni karya
terakhir yang ditulis
Plato dan yang diedarkan oleh para muridnya sesudah ia meninggal -
membicarakan juga soal negara. Plato menekankan kepada masarakat Athena
supaya hanya para filsuflah yang harus dijadikan penguasa negara.
Penekanan ini boleh dipandang
sebagai buah hasil refleksi Plato atas kematian Sokrates.
2.
Filsafat
Sebagai Dialog
Semua karya
yang ditulis Plato merupakan dialog-dialog, kecuali surat-surat dan apologia.
Ia merupakan filsuf pertama dalam sejarah filsafat yang memilih dialog
sebagai bentuk sastra untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya. Apa sebabnya
Plato senang menulis karyanya dalam bentuk dialog?
- Plato mempunyai hubungan erat dengan sifat ”Sokratik” yang telah diuraikan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada bentuk sastra yang lebih cocok untuk menghormati Sokrates daripada dialog.
- Plato berkeyakinan bahwa filsafat menurut intinya tidak lain daripada suatu dialog. Berfilsafat berarti mencari kebijaksanaan atau kebenaran, yang sebaiknya dilakukan bersama-sama dalam suatu dialog, di mana orang A dapat mengoreksi orang B dan sebaliknya.
Karena karangan filsafat Plato berupa dialog, maka
uraian pemikirannya kurang bersifat sistematis menurut para ahli. Filsafat Plato
menyajikan rupa-rupa pokok yang menyangkut seluruh ilmu pengetahuan pada waktu
itu, namun tidak ada satu pokok yang dipercakapkan secara sistematis.
Langganan:
Postingan (Atom)